BBM menjadi salah satu komponen biaya operasional yang cukup besar bagi perusahaan yang menggunakan kendaraan, alat berat, genset, mesin produksi, kapal, maupun peralatan berbahan bakar diesel.
Ketika harga BBM meningkat atau aktivitas operasional bertambah, biaya bahan bakar dapat ikut meningkat secara signifikan.
Namun, menghemat BBM industri bukan berarti sekadar mengurangi jumlah pemakaian. Jika pengurangan dilakukan tanpa memperhatikan kebutuhan operasional, justru dapat mengganggu produktivitas.
Strategi yang lebih tepat adalah meningkatkan efisiensi penggunaan BBM, sehingga jumlah bahan bakar yang digunakan sebanding dengan pekerjaan yang dihasilkan.
1. Ketahui Konsumsi BBM Aktual
Langkah pertama untuk menghemat BBM adalah mengetahui berapa banyak bahan bakar yang sebenarnya digunakan.
Perusahaan dapat mencatat:
- Jumlah BBM yang diterima.
- Jumlah BBM yang digunakan.
- Unit yang menggunakan BBM.
- Jam kerja mesin atau alat.
- Jarak tempuh kendaraan.
- Volume produksi.
- Konsumsi BBM per hari atau bulan.
Tanpa data tersebut, perusahaan akan sulit mengetahui apakah konsumsi BBM masih normal atau sudah terlalu tinggi.
Sebagai contoh, sebuah alat berat biasanya menggunakan 80 liter per jam. Jika tiba-tiba konsumsi meningkat menjadi 95 liter per jam dengan beban kerja yang sama, kondisi tersebut perlu diperiksa.
2. Hitung Konsumsi Berdasarkan Aktivitas
Jumlah liter yang digunakan saja belum cukup untuk mengukur efisiensi. Perusahaan sebaiknya membandingkan konsumsi BBM dengan aktivitas yang dihasilkan. Misalnya:
Konsumsi BBM per Jam = Total BBM yang Digunakan ÷ Jam Operasional
Atau untuk kendaraan:
Konsumsi BBM per Kilometer = Total BBM yang Digunakan ÷ Jarak Tempuh
Untuk kegiatan produksi, indikatornya dapat disesuaikan:
Konsumsi BBM per Unit Produksi = Total BBM ÷ Jumlah Produk yang Dihasilkan
Dengan indikator tersebut, perusahaan dapat melihat efisiensi secara lebih objektif.
3. Lakukan Monitoring Konsumsi Setiap Unit
Jika perusahaan memiliki banyak kendaraan atau mesin, jangan hanya mencatat total konsumsi seluruh perusahaan.
Setiap unit sebaiknya memiliki catatan tersendiri.
Contohnya:
| Unit | Jam Kerja | Pemakaian BBM | Konsumsi/Jam |
| Alat A | 200 jam | 16.000 liter | 80 liter/jam |
| Alat B | 190 jam | 17.100 liter | 90 liter/jam |
| Alat C | 210 jam | 16.800 liter | 80 liter/jam |
Dari data tersebut terlihat bahwa Alat B menggunakan BBM lebih tinggi dibandingkan unit lainnya. Hal ini belum tentu berarti Alat B bermasalah. Beban kerja, usia mesin, kondisi medan, dan operator juga perlu diperiksa. Namun, data tersebut dapat menjadi indikator awal untuk melakukan evaluasi.
4. Rawat Mesin Secara Berkala
Kondisi mesin memiliki pengaruh besar terhadap konsumsi BBM. Mesin yang tidak dirawat dengan baik dapat bekerja kurang efisien sehingga membutuhkan bahan bakar lebih banyak untuk menghasilkan pekerjaan yang sama. Perawatan dapat mencakup:
- Pemeriksaan filter.
- Pemeriksaan sistem bahan bakar.
- Pemeriksaan injektor.
- Penggantian oli sesuai jadwal.
- Pemeriksaan sistem pendingin.
- Pemeriksaan komponen mesin.
- Pemeriksaan kebocoran.
- Pemeriksaan sistem pembakaran.
Jadwal perawatan sebaiknya mengikuti rekomendasi pabrikan dan kondisi penggunaan masing-masing mesin.
5. Perhatikan Kondisi Filter dan Sistem Bahan Bakar
Filter bahan bakar merupakan salah satu komponen yang perlu diperhatikan pada mesin diesel. Filter yang kotor dapat memengaruhi aliran bahan bakar dan kinerja sistem bahan bakar. Begitu pula dengan kualitas dan kebersihan bahan bakar yang digunakan.
Karena itu, penghematan BBM tidak hanya berkaitan dengan perilaku operator. Kondisi mesin dan sistem bahan bakar juga harus diperhatikan.
6. Hindari Mesin Menyala Tanpa Pekerjaan
Salah satu sumber pemborosan BBM adalah mesin yang tetap hidup ketika tidak sedang melakukan pekerjaan. Kondisi tersebut dapat terjadi pada:
- Truk yang menunggu terlalu lama.
- Alat berat yang berhenti sementara.
- Genset yang bekerja tanpa beban optimal.
- Kendaraan operasional yang berhenti dengan mesin menyala.
Jika kondisi tersebut terjadi secara terus-menerus, konsumsi BBM dapat bertambah tanpa menghasilkan aktivitas yang sebanding. Perusahaan dapat membuat prosedur sederhana mengenai kapan mesin perlu dimatikan ketika tidak digunakan.
7. Optimalkan Penggunaan Kendaraan dan Alat
Efisiensi juga dapat dilakukan dengan mengatur pekerjaan. Misalnya, beberapa kendaraan memiliki rute yang berdekatan tetapi berjalan secara terpisah. Dengan perencanaan yang lebih baik, perjalanan dapat dikombinasikan sehingga penggunaan kendaraan menjadi lebih efisien.
Untuk alat berat, jadwal kerja juga dapat diatur agar mesin tidak terlalu sering idle atau berpindah lokasi tanpa pekerjaan produktif. Artinya, penghematan BBM tidak selalu harus dilakukan pada mesin. Perencanaan operasional juga memiliki pengaruh besar.
8. Perhatikan Beban dan Kondisi Operasional
Konsumsi BBM tidak dapat dibandingkan secara sederhana tanpa melihat beban kerja. Kendaraan yang membawa muatan berbeda tentu dapat memiliki konsumsi berbeda. Begitu pula alat berat yang bekerja di:
- Jalan datar.
- Jalan menanjak.
- Area berlumpur.
- Area pertambangan.
- Area konstruksi.
Karena itu, perusahaan perlu membandingkan unit berdasarkan kondisi operasi yang relatif sama agar evaluasi konsumsi lebih akurat.
Kesimpulan
Cara menghemat BBM industri tidak cukup dilakukan dengan mengurangi pembelian bahan bakar. Perusahaan perlu melihat keseluruhan proses mulai dari monitoring konsumsi, kondisi mesin, perilaku operator, perencanaan operasional, administrasi, hingga pengadaan BBM.
Langkah paling awal dapat dimulai dengan pencatatan konsumsi setiap unit dan membandingkannya dengan aktivitas yang dihasilkan.
Dari data tersebut, perusahaan dapat menemukan unit yang boros, aktivitas yang tidak efisien, serta peluang penghematan yang dapat dilakukan tanpa mengganggu operasional.
Pada akhirnya, efisiensi BBM bukan sekadar tentang menggunakan lebih sedikit bahan bakar, tetapi menghasilkan pekerjaan yang sama atau lebih banyak dengan penggunaan BBM yang lebih optimal.
FAQ
Bagaimana cara menghemat BBM industri yang paling efektif?
Mulailah dengan mengetahui konsumsi aktual setiap unit, kemudian evaluasi kondisi mesin, jam operasi, idle time, beban kerja, dan pola operasional.
Apakah perawatan mesin dapat menghemat BBM?
Bisa. Mesin yang dirawat sesuai prosedur dapat membantu menjaga performa dan efisiensi bahan bakar.
Bagaimana mengetahui sebuah alat berat boros BBM?
Bandingkan konsumsi BBM dengan jam kerja dan beban operasionalnya. Data beberapa periode juga diperlukan agar perbandingan tidak hanya berdasarkan satu hari.
Apakah monitoring BBM harus menggunakan software khusus?
Tidak selalu. Untuk tahap awal, Excel dapat digunakan untuk mencatat BBM masuk, pemakaian, stok, dan konsumsi masing-masing unit.
Apakah membeli BBM dalam jumlah besar selalu lebih hemat?
Belum tentu. Perusahaan perlu mempertimbangkan harga, kapasitas penyimpanan, kebutuhan operasional, biaya pengiriman, dan risiko kelebihan stok.