Bagi perusahaan yang menggunakan BBM dalam jumlah besar, mengetahui jumlah stok yang tersedia merupakan bagian penting dari kegiatan operasional. Kesalahan pencatatan beberapa ribu liter saja dapat menyebabkan perbedaan antara stok administrasi dan stok sebenarnya di tangki.
Karena itu, perusahaan membutuhkan sistem monitoring stok BBM industri yang mampu mencatat setiap penerimaan, pemakaian, dan sisa stok secara teratur.
Sistem tersebut tidak harus selalu menggunakan software khusus. Untuk kebutuhan tertentu, pencatatan menggunakan Excel pun sudah dapat membantu selama formatnya dibuat dengan benar dan diperbarui secara konsisten.
Mengapa Stok BBM Industri Perlu Dimonitor?
BBM berbeda dengan barang persediaan yang hanya digunakan sesekali. Pada perusahaan dengan aktivitas operasional tinggi, BBM dapat keluar setiap hari dalam jumlah besar.
Tanpa monitoring yang baik, beberapa masalah dapat terjadi:
- Stok aktual berbeda dengan catatan.
- Pemakaian BBM sulit ditelusuri.
- Pengadaan dilakukan terlalu terlambat.
- BBM tiba-tiba habis saat operasional berlangsung.
- Pemakaian tidak normal terlambat diketahui.
- Admin kesulitan membuat laporan bulanan.
- Perusahaan sulit mengevaluasi efisiensi penggunaan BBM.
Monitoring stok membantu perusahaan mengetahui berapa BBM yang masuk, berapa yang digunakan, dan berapa yang masih tersedia.
Data Apa Saja yang Harus Dicatat?
Sistem monitoring stok BBM minimal perlu memiliki beberapa informasi utama.
1. Stok Awal
Stok awal adalah jumlah BBM yang tersedia pada awal periode pencatatan.
Contohnya, pada awal bulan terdapat 25.000 liter BBM.
Angka ini menjadi dasar untuk menghitung stok berikutnya.
2. BBM Masuk
Setiap penerimaan BBM harus dicatat.
Data yang dapat dicatat antara lain:
- Tanggal penerimaan
- Jenis BBM
- Jumlah liter
- Nomor dokumen pengiriman
- Nama pemasok
- Lokasi atau tangki penerima
- Petugas penerima
Pencatatan tersebut penting karena jumlah BBM yang masuk harus dapat ditelusuri kembali ke dokumen penerimaan.
3. BBM Keluar atau Pemakaian
Setiap penggunaan BBM juga perlu dicatat.
Misalnya BBM digunakan untuk:
- Kendaraan operasional
- Alat berat
- Genset
- Mesin produksi
- Kapal
- Peralatan operasional lainnya
Jika memungkinkan, pencatatan sebaiknya mencantumkan unit yang menggunakan BBM sehingga perusahaan dapat mengetahui konsumsi masing-masing unit.
4. Stok Akhir
Stok akhir dapat dihitung menggunakan rumus sederhana:
Stok Akhir = Stok Awal + BBM Masuk − BBM Keluar
Contoh:
Stok awal = 20.000 liter
BBM masuk = 30.000 liter
BBM keluar = 35.000 liter
Maka:
20.000 + 30.000 − 35.000 = 15.000 liter
Jadi, berdasarkan catatan administrasi, stok akhir seharusnya 15.000 liter.
Membuat Kartu Stok BBM
Salah satu metode sederhana untuk monitoring adalah menggunakan kartu stok.
Formatnya dapat dibuat seperti berikut:
| Tanggal | Keterangan | Masuk | Keluar | Saldo |
| 1 Sept | Stok awal | – | – | 20.000 |
| 3 Sept | Penerimaan | 20.000 | – | 40.000 |
| 4 Sept | Pemakaian | – | 5.000 | 35.000 |
| 5 Sept | Pemakaian | – | 4.000 | 31.000 |
| 7 Sept | Penerimaan | 15.000 | – | 46.000 |
Dengan format tersebut, setiap transaksi langsung memengaruhi saldo.
Kelebihan sistem kartu stok adalah admin dapat melihat riwayat pergerakan BBM dengan mudah.
Pisahkan Stok Berdasarkan Jenis BBM
Jika perusahaan menggunakan lebih dari satu jenis BBM, pencatatan sebaiknya tidak digabung menjadi satu angka.
Misalnya perusahaan memiliki:
- Solar
- Biodiesel
- Campuran diesel/biodiesel
- BBM untuk kebutuhan tertentu
Masing-masing jenis perlu memiliki pencatatan tersendiri.
Hal ini penting agar admin tidak hanya mengetahui jumlah total BBM, tetapi juga mengetahui jenis BBM apa yang tersedia dan berapa jumlahnya.
Tentukan Stok Minimum
Monitoring stok tidak hanya bertujuan mengetahui kondisi persediaan saat ini. Sistem juga harus memberikan tanda ketika stok mulai mendekati batas minimum.
Misalnya perusahaan menetapkan stok minimum sebesar 15.000 liter.
Jika stok saat ini:
- 30.000 liter → aman
- 20.000 liter → perlu diperhatikan
- 15.000 liter → batas minimum
- Di bawah 15.000 liter → perlu segera melakukan pengadaan
Batas tersebut tentu harus disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing perusahaan.
Cara Menentukan Stok Minimum
Salah satu metode sederhana adalah mempertimbangkan konsumsi harian dan waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan pengiriman berikutnya.
Misalnya:
- Konsumsi rata-rata: 4.000 liter/hari
- Waktu pengiriman: 2 hari
- Safety stock: 8.000 liter
Maka kebutuhan selama waktu pengiriman:
4.000 × 2 = 8.000 liter
Ditambah safety stock:
8.000 + 8.000 = 16.000 liter
Maka stok minimum yang digunakan dalam sistem monitoring dapat ditetapkan sekitar 16.000 liter.
Angka ini bukan angka baku untuk semua perusahaan. Setiap perusahaan perlu menyesuaikannya dengan pola konsumsi dan kondisi pengiriman.
Bedakan Stok Administrasi dan Stok Fisik
Salah satu bagian penting dalam monitoring BBM adalah membandingkan stok berdasarkan catatan dengan stok aktual di tangki.
Misalnya:
Stok berdasarkan Excel: 25.000 liter
Hasil pengukuran tangki: 24.500 liter
Berarti terdapat selisih 500 liter.
Selisih tersebut jangan langsung dianggap sebagai kesalahan pencatatan. Perusahaan perlu melakukan pemeriksaan untuk mengetahui penyebabnya.
Kemungkinan penyebab antara lain:
- Kesalahan input transaksi.
- Transaksi belum dicatat.
- Kesalahan pengukuran.
- Perbedaan metode pengukuran.
- Pemakaian yang belum masuk laporan.
- Faktor teknis pada penyimpanan.
Semakin besar volume BBM yang dikelola, semakin penting rekonsiliasi antara catatan dan kondisi fisik.
Lakukan Stock Opname Secara Berkala
Stock opname adalah proses membandingkan stok yang tercatat dengan stok sebenarnya.
Untuk BBM, pemeriksaan dapat dilakukan secara berkala sesuai kebutuhan operasional perusahaan.
Hasilnya dapat dibuat dalam laporan sederhana:
| Keterangan | Liter |
| Stok menurut sistem | 25.000 |
| Stok fisik | 24.700 |
| Selisih | -300 |
| Status | Perlu pemeriksaan |
Dengan pencatatan seperti ini, perusahaan dapat mengetahui apakah sistem persediaannya berjalan dengan baik.
Gunakan Excel untuk Monitoring yang Lebih Praktis
Untuk perusahaan yang belum memiliki sistem khusus, Excel dapat digunakan untuk membuat monitoring stok BBM.
Beberapa kolom yang dapat digunakan:
- Tanggal
- Nomor transaksi
- Jenis BBM
- Supplier
- BBM masuk
- BBM keluar
- Saldo
- Stok minimum
- Status stok
- Keterangan
Kolom status bahkan dapat dibuat otomatis.
Contohnya:
Jika saldo > stok minimum → AMAN
Jika saldo ≤ stok minimum → SEGERA PESAN
Dengan formula Excel dan conditional formatting, admin dapat lebih mudah mengetahui kondisi persediaan tanpa memeriksa satu per satu.
Monitoring Tidak Hanya Dilakukan Saat BBM Masuk
Kesalahan yang cukup sering terjadi adalah perusahaan hanya memperhatikan stok ketika ada pengiriman.
Padahal, pemakaian harian justru perlu dicatat secara konsisten.
Contohnya, perusahaan menerima 30.000 liter pada hari Senin. Jika pemakaian hari Selasa, Rabu, dan Kamis tidak dicatat dengan baik, maka angka stok pada akhir minggu tidak lagi dapat dipercaya.
Karena itu, prinsip sederhana yang perlu diterapkan adalah:
Setiap BBM masuk dicatat. Setiap BBM keluar dicatat. Setiap selisih diperiksa.
Hubungkan Monitoring Stok dengan Pengadaan
Sistem monitoring akan lebih berguna apabila terhubung dengan proses pengadaan.
Contohnya:
Stok turun → mencapai reorder point → admin mengajukan pengadaan → supplier menjadwalkan pengiriman → BBM diterima → stok bertambah kembali.
Dengan alur tersebut, pengadaan tidak lagi hanya dilakukan ketika BBM hampir habis.
Sistem menjadi lebih terencana dan risiko gangguan operasional dapat dikurangi.
Evaluasi Konsumsi Secara Bulanan
Data monitoring stok juga dapat digunakan untuk mengevaluasi penggunaan BBM.
Misalnya:
| Bulan | Pemakaian |
| Januari | 100.000 liter |
| Februari | 105.000 liter |
| Maret | 103.000 liter |
| April | 125.000 liter |
Jika konsumsi tiba-tiba meningkat menjadi 125.000 liter, perusahaan dapat melakukan pemeriksaan.
Apakah produksi meningkat?
Apakah jam kerja alat bertambah?
Apakah jumlah kendaraan bertambah?
Atau terdapat penggunaan yang tidak normal?
Dengan demikian, data stok tidak hanya berfungsi sebagai administrasi, tetapi juga dapat menjadi dasar pengambilan keputusan operasional.
Kesimpulan
Sistem monitoring stok BBM industri pada dasarnya bertujuan memastikan perusahaan selalu mengetahui tiga hal penting: berapa BBM yang tersedia, berapa yang digunakan, dan kapan harus melakukan pengadaan kembali.
Sistem sederhana dapat dimulai dari pencatatan BBM masuk dan keluar, perhitungan saldo, penetapan stok minimum, serta pemeriksaan stok fisik secara berkala.
Bagi perusahaan dengan konsumsi BBM yang besar, monitoring yang konsisten dapat membantu mengurangi risiko kekurangan stok, menemukan selisih lebih cepat, dan membuat proses pengadaan menjadi lebih terencana.
Pada tahap berikutnya, sistem tersebut dapat dikembangkan menjadi dashboard monitoring yang menampilkan stok setiap tangki, konsumsi harian, estimasi hari tersisa, dan notifikasi ketika stok mencapai batas minimum.
FAQ
Apa yang dimaksud dengan monitoring stok BBM industri?
Monitoring stok BBM industri adalah proses mencatat dan memantau BBM yang masuk, digunakan, dan tersisa sehingga perusahaan dapat mengetahui kondisi persediaan secara aktual.
Apa saja yang perlu dicatat dalam stok BBM?
Minimal mencakup stok awal, BBM masuk, BBM keluar atau pemakaian, dan stok akhir. Untuk kebutuhan yang lebih lengkap, dapat ditambahkan tanggal transaksi, jenis BBM, supplier, unit pengguna, dan dokumen transaksi.
Berapa stok minimum BBM yang ideal?
Tidak ada angka yang berlaku untuk semua perusahaan. Stok minimum perlu disesuaikan dengan konsumsi harian, waktu pengiriman, kapasitas tangki, dan safety stock yang ditetapkan.
Apakah monitoring stok BBM bisa menggunakan Excel?
Bisa. Excel cukup untuk kebutuhan monitoring sederhana hingga menengah, terutama jika perusahaan menggunakan formula, validasi data, dan dashboard untuk membantu proses pemantauan.
Mengapa stok fisik harus dibandingkan dengan stok administrasi?
Karena pencatatan administrasi dapat mengalami kesalahan. Perbandingan dengan stok fisik membantu perusahaan menemukan selisih dan mencari penyebabnya.
Baca Juga : Cara Menghitung Biaya BBM Industri: Rumus, Contoh Perhitungan, dan Strategi Menghemat Pengeluaran.