Bagi perusahaan yang menggunakan mesin diesel, kendaraan operasional, alat berat, atau armada dalam jumlah banyak, BBM merupakan salah satu komponen biaya yang harus dikendalikan dengan baik.
Kesalahan memperkirakan kebutuhan BBM dapat menimbulkan berbagai masalah. Jika terlalu sedikit, operasional bisa terganggu karena stok habis sebelum jadwal pengiriman berikutnya.
Jika terlalu banyak, perusahaan harus menyediakan modal kerja lebih besar dan biaya penyimpanan juga meningkat. Di era B50, kemampuan menghitung kebutuhan BBM menjadi semakin penting.
B50 telah mulai diterapkan secara nasional sejak 1 Juli 2026. Pemerintah memperkirakan kebutuhan biodiesel untuk implementasi B50 mencapai sekitar 16,7–18 juta kiloliter per tahun.
Lalu, bagaimana perusahaan menghitung kebutuhan B50 untuk operasionalnya sendiri? Jawabannya sebenarnya cukup sederhana jika data operasional tersedia.
Mengapa Industri Perlu Menghitung Kebutuhan BBM?
Perusahaan sebaiknya tidak menentukan kebutuhan BBM hanya berdasarkan perkiraan. Misalnya:
“Bulan lalu kita habis 50.000 liter, bulan ini pesan 50.000 liter lagi.”
Cara tersebut memang mudah, tetapi belum tentu akurat.
Konsumsi BBM dapat berubah karena:
- Jumlah mesin yang beroperasi
- Jam kerja
- Volume produksi
- Beban mesin
- Jarak tempuh
- Kondisi jalan
- Musim
- Penambahan unit
- Perubahan target produksi
- Kondisi mesin
Karena itu, kebutuhan BBM sebaiknya dihitung berdasarkan data operasional aktual.
Data Apa yang Dibutuhkan?
Sebelum menghitung kebutuhan B50 bulanan, siapkan beberapa data.
Minimal:
- Jumlah kendaraan atau mesin
- Konsumsi BBM setiap unit
- Jam operasi atau jarak tempuh
- Jumlah hari operasi
- Target operasional
- Stok BBM yang tersedia
- Jadwal pengiriman BBM
Semakin lengkap datanya, semakin akurat perhitungannya.
Cara Menghitung Kebutuhan B50 untuk Mesin Industri
Untuk mesin yang konsumsi BBM-nya dihitung berdasarkan jam operasi, rumus sederhananya:
Kebutuhan BBM = Jumlah Unit × Konsumsi BBM per Jam × Jam Operasi
Misalnya sebuah perusahaan memiliki:
- 5 mesin diesel
- Konsumsi rata-rata 15 liter/jam
- Operasi 10 jam/hari
- 26 hari kerja/bulan
Maka:
5 × 15 × 10 × 26 = 19.500 liter/bulan
Jadi estimasi kebutuhan BBM adalah sekitar 19.500 liter per bulan.
Angka tersebut dapat digunakan sebagai dasar perencanaan pasokan.
Contoh Perhitungan B50 untuk Alat Berat
Untuk alat berat, pendekatan liter per jam biasanya lebih mudah digunakan.
Misalnya perusahaan memiliki:
| Unit | Jumlah | Konsumsi | Operasi |
| Excavator | 3 | 20 L/jam | 10 jam/hari |
| Wheel Loader | 2 | 15 L/jam | 8 jam/hari |
| Dump Truck | 5 | 25 L/jam | 10 jam/hari |
Dengan asumsi 26 hari operasi per bulan:
Excavator
3 × 20 × 10 × 26 = 15.600 liter
Wheel Loader
2 × 15 × 8 × 26 = 6.240 liter
Dump Truck
5 × 25 × 10 × 26 = 32.500 liter
Total:
15.600 + 6.240 + 32.500 = 54.340 liter/bulan
Dengan demikian, estimasi kebutuhan BBM seluruh unit adalah sekitar 54.340 liter per bulan.
Bagaimana Menghitung Kebutuhan BBM Armada Truk?
Untuk kendaraan jalan raya, perhitungan biasanya lebih mudah menggunakan kilometer per liter.
Misalnya:
- Jumlah truk: 20 unit
- Rata-rata perjalanan: 250 km/hari
- Konsumsi: 2,5 km/liter
- Hari operasi: 26 hari/bulan
Kebutuhan satu truk:
250 ÷ 2,5 = 100 liter/hari
Dalam sebulan:
100 × 26 = 2.600 liter
Untuk 20 truk:
2.600 × 20 = 52.000 liter/bulan
Jadi kebutuhan BBM armada tersebut diperkirakan sekitar 52.000 liter per bulan.
Jangan Lupa Menghitung Stok BBM
Kebutuhan bulanan tidak selalu sama dengan jumlah BBM yang harus dipesan.
Misalnya kebutuhan satu perusahaan:
50.000 liter/bulan
Tetapi pada awal bulan masih terdapat stok:
10.000 liter
Maka kebutuhan pengadaan secara sederhana:
50.000 – 10.000 = 40.000 liter
Namun perusahaan juga perlu mempertimbangkan safety stock.
Misalnya perusahaan ingin memiliki cadangan 10%:
50.000 × 10% = 5.000 liter
Maka kebutuhan pengadaan dapat dihitung:
50.000 + 5.000 – 10.000 = 45.000 liter
Jadi perusahaan dapat merencanakan pengadaan sekitar 45.000 liter.
Berapa Safety Stock BBM yang Ideal?
Tidak ada satu angka yang cocok untuk semua perusahaan.
Safety stock dipengaruhi oleh:
- Jarak lokasi dengan pemasok
- Frekuensi pengiriman
- Kondisi jalan
- Kapasitas tangki
- Stabilitas pasokan
- Pola konsumsi
- Risiko keterlambatan distribusi
Perusahaan yang berada dekat dengan sumber pasokan dan dapat menerima BBM dengan cepat mungkin membutuhkan cadangan lebih kecil.
Sebaliknya, perusahaan yang berada di lokasi terpencil dengan waktu pengiriman lebih panjang membutuhkan buffer yang lebih besar.
Karena itu, safety stock sebaiknya dihitung berdasarkan risiko operasional, bukan sekadar persentase tetap.
Menghitung Kebutuhan BBM Berdasarkan Produksi
Untuk industri tertentu, cara yang lebih menarik adalah menghitung konsumsi BBM berdasarkan output produksi.
Contohnya perusahaan pertambangan.
Daripada hanya mengetahui:
“Alat berat menghabiskan 50.000 liter.”
lebih berguna jika diketahui:
“Untuk memindahkan 100.000 ton material dibutuhkan 50.000 liter BBM.”
Maka konsumsi:
50.000 ÷ 100.000 = 0,5 liter/ton
Angka tersebut dapat menjadi indikator efisiensi energi.
Jika bulan berikutnya konsumsi menjadi 0,6 liter/ton, perusahaan dapat melakukan evaluasi.
Apakah penyebabnya:
- Mesin?
- Operator?
- Kondisi jalan?
- Beban?
- Idle time?
- Produktivitas?
- Atau perubahan kondisi operasional?
Menghitung BBM B50 Berdasarkan Biaya
Selain volume, perusahaan juga perlu menghitung nilai rupiahnya.
Misalnya kebutuhan:
50.000 liter/bulan
Jika harga BBM yang dibeli perusahaan adalah:
RpX per liter
Maka:
50.000 × RpX = total biaya BBM bulanan
Karena harga BBM dapat berubah sesuai produk, ketentuan, wilayah, dan waktu pengadaan, perusahaan sebaiknya menggunakan harga aktual dari pemasok ketika membuat anggaran.
Dengan begitu, budgeting BBM akan lebih realistis.
Jangan Menggunakan Satu Angka Konsumsi untuk Semua Mesin
Ini kesalahan yang cukup umum.
Misalnya perusahaan memiliki 30 kendaraan. Jangan langsung menggunakan: “Rata-rata semua kendaraan 100 liter per hari.” Lebih baik setiap unit memiliki data sendiri.
Contoh:
| Kendaraan | Konsumsi Rata-rata |
| Truk A | 95 L/hari |
| Truk B | 102 L/hari |
| Truk C | 110 L/hari |
| Truk D | 97 L/hari |
Dari sini perusahaan dapat menemukan unit yang konsumsi BBM-nya jauh di atas rata-rata. Unit tersebut kemudian dapat diperiksa.
B50 dan Monitoring Konsumsi
Ketika perusahaan mulai menggunakan B50, pencatatan konsumsi menjadi semakin penting. Jangan hanya membandingkan:
B40 = 100.000 liter dengan B50 = 103.000 liter
Kemudian langsung menyimpulkan B50 lebih boros. Perusahaan perlu mempertimbangkan apakah:
- Jam operasi berubah
- Jumlah kendaraan bertambah
- Beban meningkat
- Jarak perjalanan berubah
- Produktivitas meningkat
- Kondisi jalan berubah
Perbandingan harus menggunakan periode dan kondisi operasi yang sebanding.
Buat Sistem Monitoring BBM Sederhana
Perusahaan tidak harus langsung menggunakan sistem yang rumit. Spreadsheet sederhana saja sudah cukup untuk tahap awal. Kolom yang dapat dibuat:
| Tanggal | Unit | KM/Hour Meter | Liter | Konsumsi | Operator |
| 1/9 | Truck A | 250 km | 100 L | 2,5 km/L | A |
| 1/9 | Truck B | 240 km | 98 L | 2,45 km/L | B |
Data tersebut kemudian dikumpulkan setiap hari.
Pada akhir bulan, perusahaan dapat melihat:
- Total liter
- Rata-rata konsumsi
- Unit paling boros
- Unit paling efisien
- Tren konsumsi
- Perubahan dibanding bulan sebelumnya
Bagaimana Menentukan Jadwal Pengiriman B50?
Kebutuhan bulanan juga dapat digunakan untuk menentukan jadwal pengiriman.
Misalnya:
Kebutuhan = 60.000 liter/bulan
Perusahaan memiliki tangki yang mampu menampung:
30.000 liter
Maka perusahaan mungkin memilih dua kali pengiriman dalam sebulan.
Namun keputusan tersebut harus mempertimbangkan:
- Kapasitas tangki
- Rata-rata konsumsi harian
- Safety stock
- Lead time pengiriman
- Kondisi operasional
Tujuannya bukan memenuhi tangki sampai penuh setiap saat.
Tujuannya adalah menjaga BBM tersedia tanpa menyimpan secara berlebihan.
Mengapa Kapasitas Tangki Harus Disesuaikan?
Tangki yang terlalu kecil dapat menyebabkan perusahaan terlalu sering melakukan pemesanan. Sebaliknya, tangki terlalu besar juga belum tentu efisien.
Perusahaan perlu mempertimbangkan:
Kebutuhan harian + lead time + safety stock + kapasitas tangki
Misalnya konsumsi:
2.000 liter/hari
dan waktu tunggu pengiriman:
3 hari
Maka kebutuhan selama masa tunggu saja sudah:
2.000 × 3 = 6.000 liter
Artinya, perusahaan harus memiliki stok yang cukup untuk melewati periode tersebut.
Dari Perhitungan BBM Menjadi Efisiensi Operasional
Perhitungan kebutuhan B50 sebenarnya bukan hanya persoalan berapa liter yang harus dibeli.
Data tersebut dapat digunakan untuk mengetahui kinerja operasional perusahaan.
Jika konsumsi meningkat, perusahaan dapat mencari penyebab.
Jika konsumsi turun, perusahaan dapat mengetahui faktor yang membuat operasional menjadi lebih efisien.
Dengan demikian, BBM berubah dari sekadar biaya operasional menjadi data untuk mengambil keputusan.
Rumus Sederhana Kebutuhan B50 Industri
Secara umum, perusahaan dapat menggunakan beberapa rumus berikut.
Mesin atau alat berat
Kebutuhan bulanan = jumlah unit × liter/jam × jam operasi/hari × hari operasi
Kendaraan berdasarkan jarak
Kebutuhan BBM = total kilometer ÷ km/liter
Kebutuhan pengadaan
Kebutuhan pengadaan = kebutuhan periode + safety stock – stok tersedia
Efisiensi berdasarkan produksi
Konsumsi BBM per unit produksi = total BBM ÷ total produksi
Rumusnya sederhana.
Yang lebih penting adalah akurasi data yang dimasukkan.
Kesimpulan
Menghitung kebutuhan Biodiesel B50 untuk industri tidak harus rumit. Perusahaan cukup memulai dari data dasar:
jumlah unit → konsumsi → jam operasi/jarak → hari kerja → stok → safety stock.
Dari sana, perusahaan dapat mengetahui estimasi kebutuhan BBM bulanan dengan lebih akurat. Yang lebih penting, data tersebut dapat digunakan untuk mengevaluasi efisiensi.
Bukan hanya:
“Berapa liter B50 yang kita habiskan?”
tetapi juga:
“Berapa liter B50 yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu unit produk atau menyelesaikan satu jam operasi?”
Cara berpikir tersebut akan membantu perusahaan mengelola BBM secara lebih profesional.
Di era B50, ketika penggunaan biodiesel semakin besar dan rantai pasok energi domestik semakin terintegrasi, perencanaan kebutuhan BBM yang akurat menjadi bagian penting dari efisiensi operasional industri. Pemerintah sendiri menempatkan pengelolaan kebutuhan, alokasi, distribusi, dan pengawasan mutu sebagai bagian penting dalam implementasi B50.
Bagi perusahaan pengguna BBM industri, langkah pertama yang paling sederhana adalah mulai mencatat konsumsi setiap unit secara rutin. Dari data tersebut, kebutuhan bulanan dapat dihitung, pembelian dapat direncanakan, dan pemborosan BBM lebih mudah ditemukan.
FAQ
Bagaimana cara menghitung kebutuhan B50 per bulan?
Untuk mesin, gunakan rumus jumlah unit × konsumsi per jam × jam operasi per hari × jumlah hari operasi. Untuk kendaraan, kebutuhan dapat dihitung berdasarkan total jarak tempuh dibagi konsumsi kilometer per liter.
Apakah kebutuhan B50 setiap perusahaan sama?
Tidak. Kebutuhan tergantung jenis industri, jumlah mesin, jam operasi, kapasitas produksi, jumlah kendaraan, dan karakteristik operasional.
Berapa safety stock BBM yang harus disiapkan?
Tidak ada angka yang berlaku untuk semua perusahaan. Safety stock sebaiknya disesuaikan dengan konsumsi harian, waktu pengiriman, kondisi lokasi, kapasitas tangki, dan risiko gangguan pasokan.
Apakah konsumsi B50 harus dibandingkan dengan B40?
Bisa, tetapi perbandingan harus dilakukan pada kondisi operasi yang sebanding. Perubahan konsumsi juga dapat dipengaruhi beban, jam kerja, rute, mesin, operator, dan produktivitas.
Mengapa perusahaan perlu mencatat konsumsi BBM per kendaraan atau mesin?
Karena data tersebut membantu menemukan unit yang boros, memantau perubahan konsumsi, membuat anggaran BBM, serta menghitung biaya energi terhadap produktivitas.
Baca Juga : Biodiesel B50 untuk Alat Berat : Pengaruh Terhadap Mesin, Konsumsi BBM, dan Perawatan.