Di tengah meningkatnya tekanan global untuk beralih ke energi bersih, biofuel menjadi salah satu solusi yang realistis bagi negara berkembang. Indonesia, melalui implementasi mandatori B40, telah membuktikan bahwa bahan bakar nabati bukan sekedar wacana, tetapi kebijakan nyata yang bisa dijalankan dalam skala besar. Dari sinilah muncul peluang baru: diplomasi biofuel, di mana pengalaman Indonesia dapat diekspor sebagai model kebijakan bagi negara-negara Global South.
B40 Sebagai Bukti Kesiapan Indonesia
Program B40 menunjukkan bahwa Indonesia mampu mengintegrasikan biofuel ke dalam sistem energi nasional tanpa mengorbankan stabilitas pasokan. Mulai dari kesiapan industri CPO, dukungan riset, hingga regulasi yang konsisten, B40 menjadi contoh bagaimana negara tropis bisa memanfaatkan sumber daya lokal untuk ketahanan energi.
Keberhasilan ini memberi Indonesia credibility di mata negara-negara lain, khususnya sesama negara berkembang yang memiliki tantangan serupa: ketergantungan impor BBM, fluktuasi harga energi, dan kebutuhan penciptaan nilai tambah domestik.
Diplomasi Biofuel: Lebih Dari Sekedar Ekspor Produk
Diplomasi biofuel tidak hanya berbicara tentang ekspor biodiesel atau CPO. Yang lebih penting adalah ekspor pengalaman kebijakan. Indonesia bisa berbagi praktik terbaik mulai dari:
- Penyusunan mandatori biofuel bertahap
- Skema insentif dan pendanaan
- Pengutan riset dan standar mutu
- Sinergi antara pemerintah, industri dan petani
Model ini sangat relevan bagi negara-negara di Afrika dan Amerika Latin yang memiliki iklim tropis, lahan luas, serta komoditas nabati potensial seperti kelapa sawit, tebu, atau jarak pagar.
Relevansi bagi Negara-Negara Global South
Banyak negara global south menghadapi dilema yang sama yakni ingin beralih ke energi bersih, tetapi memiliki keterbatasan fiskal dan infrastruktur. Pengalaman Indonesia menunjukkan bahwa transisi energi tidak harus mahal atau bergantung pada teknologi impor. Dengan pendekatan berbasis sumber daya lokal, biofuel dapat:
- Meningkatkan ketahanan energi nasional
- Mengurangi impor BBM
- Mendorong industrialisasi domestik
- Menciptakan lapangan kerja di sektor hulu
Hal ini menjadikan Indonesia bukan hanya pengguna biofuel, tetapi role model kebijakan energi tropis.
Peran Kerja Sama Selatan-Selatan
Diplomasi biofuel dapat diperkuat melalui kerja sama Selatan-Selatan ( South-South Coopertation ). Indonesia berpeluang menjadi mitra strategis dalam:
- Pelatihan teknis dan pengembangan SDM
- Transfer pengetahuan kebijakan biofuel
- Kolaborasi riset dan pengembangan standar
Pendekatan ini bersifat setara dan kontekstual, berbeda dengan model transfer teknologi satu arah dari negara maju. Pengalaman Indonesia dalam mengembangkan B40 bukan hanya pencapaian domestik, tetapi aset diplomasi strategis.
Dengan memposisikan diri sebagai pemimpin standar bahan bakar nabati bagi Global South, Indonesia dapat berkontribusi nyata pada transisi energi global sekaligus memperkuat pengaruh geopolitiknya. Diplomasi biofuel membuka jalan bagi Indonesia untuk berbicara bukan hanya sebagai eksportir komoditas, tetapi sebagai arsitek kebijakan energi berkelanjutan bagi negara-negara tropis dunia.
Baca Juga: Manajemen Air dan Konservasi Lahan Gambut: Kunci Budidaya yang Bertanggung Jawab dan Berkelanjutan.
[…] Baca Juga: Diplomasi Biofuel: Peluang Indonesia Menjadi Pemimpin Standar Bahan Bakar Nabati Global South. […]